Asia Mengejar Keamanan Energi, Batu Bara Bertahan Lebih Lama

Investasi energi Asia diperkirakan mencapai US$1 triliun per tahun. Namun, pertumbuhan kebutuhan dan kekhawatiran pasokan membuat batu bara bertahan lebih lama.

ASIA menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada sekadar membangun lebih banyak pembangkit. Kawasan ini harus memenuhi kebutuhan energi yang terus tumbuh, melindungi ekonomi dari gangguan pasokan, sekaligus menekan emisi. Ketiganya belum tentu bergerak searah.

Laporan McKinsey yang terbit pada 22 Oktober 2026 memperlihatkan benturan tersebut. Asia diperkirakan membutuhkan investasi energi sekitar US$1 triliun atau sekitar Rp18.047 triliun setiap tahun selama 15 tahun mendatang. Namun, di tengah pertumbuhan energi terbarukan, batu bara diproyeksikan bertahan lebih lama daripada perkiraan sebelumnya.

Besarnya kebutuhan investasi membuka pertanyaan yang menentukan arah transisi. Apakah uang tersebut akan mengurangi kerentanan sistem energi sekaligus menurunkan ketergantungan pada fosil?

Energi Bersih Tumbuh, Batu Bara Belum Menyusut

McKinsey memperkirakan permintaan batu bara Asia relatif datar selama sepuluh tahun mendatang. Penurunan konsumsi di China diimbangi pertumbuhan di India dan Asia Tenggara. Pada saat bersamaan, pengembangan energi terbarukan terus melaju.

Kebutuhan energi kawasan meningkat seiring ekspansi industri, pembangunan pusat data, dan kebutuhan pendinginan. Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 70% pertumbuhan bersih permintaan energi global hingga 2040. Angka tersebut merujuk pada tambahan permintaan, bukan pangsa konsumsi energi dunia.

Proyeksi itu menggunakan skenario dasar Continued Momentum, sehingga perlu dibaca sebagai kemungkinan berdasarkan asumsi tertentu, bukan kepastian.

Baca juga: Asia-Pasifik Tertinggal dalam SDGs karena Lambatnya Transisi Energi Bersih

Gambaran ini menunjukkan mengapa keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari jumlah pembangkit bersih yang dibangun. Ketika permintaan tumbuh cepat, tambahan pasokan rendah emisi dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan baru, sementara penggunaan fosil tetap bertahan.

Pangsa batu bara bisa saja turun dalam sistem yang membesar. Akan tetapi, penurunan pangsa belum tentu berarti jumlah batu bara yang dibakar ikut berkurang. Perbedaan itu penting ketika pemerintah menilai kemajuan penurunan emisi.

Krisis Pasokan Mengubah Perhitungan

Gangguan aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz memperkuat perhatian terhadap sumber energi domestik. Dalam situasi darurat, pemerintah menghadapi tekanan untuk memastikan listrik tetap tersedia dan kegiatan ekonomi berjalan.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional atau IEA, Fatih Birol, menyatakan dalam keterangan lembaganya pada 28 Mei 2026 bahwa krisis keamanan energi akan membentuk ulang strategi investasi global. Ia menjelaskan, negara produsen dan konsumen memperluas jalur perdagangan serta beralih ke sumber domestik. Energi terbarukan dan nuklir, juga batu bara, minyak, dan gas dalam sejumlah kasus.

Respons tersebut memperlihatkan bahwa keamanan energi dapat mempercepat beberapa teknologi sekaligus. Sumber domestik menjadi menarik karena mengurangi paparan terhadap gangguan pengiriman internasional, meskipun konsekuensi emisinya berbeda.

Baca juga: AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara

IEA memperkirakan investasi batu bara global mencapai US$180 miliar atau sekitar Rp3.248,5 triliun pada 2026, tertinggi sejak 2012. Lembaga itu juga menyebut sebagian negara Asia yang terdampak krisis mungkin mempertahankan operasi PLTU yang ada lebih lama untuk menopang keamanan energi.

Mempertahankan pembangkit dalam keadaan darurat dan merancang ketergantungan selama puluhan tahun merupakan keputusan dengan konsekuensi berbeda. Karena itu, kebijakan sementara memerlukan batas waktu dan ukuran evaluasi yang jelas agar tidak berubah menjadi arah permanen tanpa penilaian ulang.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Indonesia Punya Rencana, Pelaksanaan Menjadi Ujian

Indonesia telah memiliki kerangka penambahan pasokan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL PLN 2025-2034.

Dokumen tersebut merencanakan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 gigawatt. Komposisinya mencakup 42,6 GW dalam kelompok energi baru dan terbarukan versi pemerintah, 10,3 GW penyimpanan energi, serta 16,6 GW pembangkit fosil. Kelompok pertama tersebut juga memasukkan pengenalan nuklir sebesar 0,5 GW.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan konsistensi pelaksanaan saat menjelaskan rencana tersebut pada 26 Mei 2025.

“Yang penting kita konsisten,” kata Bahlil, sebagaimana dimuat dalam siaran pers Kementerian ESDM sehari kemudian.

Baca juga: Indonesia Kunci Transisi Energi Asia Tenggara dengan Potensi Terbarukan Melimpah

Pernyataan itu menempatkan pelaksanaan sebagai titik penting. Target kapasitas belum sama dengan pembangkit yang beroperasi, tersambung ke jaringan, dan memasok listrik kepada pengguna.

Angka 76% yang kerap melekat pada RUPTL juga perlu dibaca tepat: angka itu merupakan gabungan porsi energi baru dan terbarukan serta penyimpanan dalam rencana tambahan kapasitas. Angka tersebut bukan target 76% produksi listrik nasional berasal dari energi terbarukan.

Pembedaan ini membantu publik menilai kemajuan secara lebih jernih. Kapasitas mengukur kemampuan fasilitas, sedangkan produksi menunjukkan listrik yang benar-benar dihasilkan. Penyimpanan membantu mengatur ketersediaan listrik, tetapi tetap membutuhkan energi untuk diisi.

Mengukur Ketahanan dari Hasilnya

Bagi Indonesia, pelajaran dari proyeksi Asia adalah perlunya menilai pembangunan energi sebagai satu sistem. Pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan kebutuhan pengguna harus direncanakan bersama.

Dari sisi permintaan, efisiensi juga memiliki peran. Bangunan yang lebih hemat energi dan peralatan pendingin yang efisien dapat membantu menahan pertumbuhan kebutuhan listrik tanpa mengurangi layanan yang dibutuhkan masyarakat.

Baca juga: Energi Bersih Asia Tenggara, Kebijakan Global vs Realita Domestik

Karena itu, ukuran keberhasilan investasi perlu melampaui besarnya dana dan tambahan megawatt. Publik perlu mengetahui apakah pasokan makin andal, biaya makin terkendali, serta konsumsi fosil dan emisi benar-benar menurun.

Asia sedang mengambil keputusan yang akan membentuk sistem energinya selama bertahun-tahun. Keamanan pasokan merupakan kebutuhan mendesak. Tantangannya adalah memastikan respons terhadap krisis hari ini juga memperkuat kemampuan menghadapi krisis berikutnya. ***

  • FOTO: Celeo Sun/ Pexels – Kompleks pembangkit listrik di Chengdu, China. McKinsey memproyeksikan permintaan batu bara Asia relatif datar selama satu dekade, meski energi terbarukan terus berkembang.
Bagikan