Sarulla Punya 330 MW, Mengapa Hanya Menghasilkan 220 MW?

PLTP Sarulla kehilangan sekitar sepertiga kemampuan produksinya. Pemerintah menyiapkan investasi US$270 juta untuk memulihkan kapasitas sambil membuka jalan menuju potensi 1.100 MW.

INDONESIA tidak kekurangan potensi panas bumi di Sarulla.

Di bawah kawasan Pahae, Kabupaten Tapanuli Utara, tersimpan sumber daya panas bumi yang diperkirakan mencapai 1.100 megawatt atau MW.

Pembangkitnya juga sudah berdiri.

Tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP Sarulla memiliki kapasitas terpasang total 330 MW. Namun, listrik yang sekarang dapat diproduksi hanya berada di kisaran 220 MW.

Ada sekitar 110 MW yang belum dapat dihasilkan.

Angka itu setara dengan sepertiga kapasitas terpasang PLTP Sarulla.

Pemerintah kini berupaya mengembalikan pembangkit tersebut ke kemampuan optimalnya. Tambahan investasi sekitar US$270 juta diperkirakan diperlukan untuk memulihkan produksi menuju kapasitas terpasang 330 MW.

Pemulihan itu menjadi penting bukan hanya bagi Sarulla. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pengembangan panas bumi tidak berhenti ketika pembangkit selesai dibangun.

Panas bumi harus terus dikelola setelah turbin mulai berputar.

Tiga Unit, Satu Unit Seolah Menghilang

PLTP Sarulla terdiri atas tiga unit yang masing-masing memiliki kapasitas sekitar 110 MW.

Unit Silangkitang mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2017. Unit Namora-I-Langit 1 menyusul pada Oktober 2017, kemudian Namora-I-Langit 2 pada Mei 2018.

Secara keseluruhan, ketiganya membentuk pembangkit berkapasitas sekitar 330 MW. Situs resmi pengelola mencatat total kapasitas unitnya berada di sekitar 327,15 MW dan dapat menghasilkan hingga 330 MW.

Namun, dengan produksi saat ini sekitar 220 MW, kekurangan daya Sarulla setara dengan kapasitas satu unit pembangkit.

Bukan berarti salah satu unit sepenuhnya berhenti. Perbandingan tersebut menggambarkan besarnya kapasitas yang belum dapat dimanfaatkan.

Selisih 110 MW juga bukan angka kecil.

Baca juga: Indonesia Incar Posisi Terdepan dalam Energi Panas Bumi Global

Kapasitas sebesar itu cukup untuk menunjukkan bahwa kemampuan pembangkit di atas kertas tidak selalu sama dengan listrik yang benar-benar dapat dialirkan ke jaringan.

Perubahan tekanan dan pasokan uap dari reservoir menjadi salah satu tantangan yang kini harus diatasi. Dalam pembangkit panas bumi, uap dari bawah permukaan menjadi tenaga utama untuk menggerakkan turbin.

Ketika karakteristik reservoir berubah, kemampuan produksi pembangkit juga dapat ikut menurun.

US$270 Juta untuk Memulihkan Kapasitas

Pemerintah menargetkan persoalan administrasi terkait pemulihan Sarulla dapat diselesaikan hingga Oktober 2026.

Setelah tahapan tersebut rampung, peningkatan kapasitas produksi akan dikejar sepanjang 2027 hingga 2028.

“Yang pertama dari sisi administrasi kita akan selesaikan sampai dengan Oktober 2026 ini. Sudah selesai urusan administrasinya, tahun 2027-2028 ini kita kejar peningkatan kapasitas produksi,” kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot seusai pertemuan di PLTP Sarulla, Jumat, 31 Juli 2026.

Besarnya investasi yang diperlukan diperkirakan mencapai US$270 juta.

Dana itu diarahkan untuk mengembalikan kemampuan produksi Sarulla dari sekitar 220 MW menuju kapasitas terpasang 330 MW.

“Perlu ada tambahan investasi baru itu diperkirakan sekitar 270 juta US untuk mengembalikan kembali ke kapasitas 330 MW dari potensi yang ada 1.100 MW,” ujar Yuliot.

Baca juga: Panas Bumi dan Ujian Bankability Proyek Hijau

Jika dibandingkan dengan kekurangan kapasitas sekitar 110 MW, nilai investasi tersebut setara dengan kurang lebih US$2,45 juta untuk setiap megawatt yang hendak dipulihkan.

Perbandingan itu tidak dapat langsung disamakan dengan biaya pembangunan pembangkit baru. Investasi pemulihan dapat mencakup pekerjaan pada sumur, fasilitas produksi uap, sistem reinjeksi, infrastruktur lapangan, hingga kebutuhan teknis lainnya.

Namun, angkanya memperlihatkan satu hal. Menjaga produktivitas lapangan panas bumi juga membutuhkan modal besar.

Energi dari dalam bumi memang terbarukan. Akan tetapi, kemampuan reservoir untuk memasok uap tetap harus dipantau dan dikelola secara disiplin.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Potensi Besar Belum Menjadi Produksi

Sarulla kerap disebut sebagai salah satu aset panas bumi strategis Indonesia.

Potensi sumber dayanya diperkirakan mencapai sekitar 1.100 MW. Namun, kapasitas yang telah dibangun baru 330 MW. Dari kapasitas tersebut, produksi aktual sekarang berada di sekitar 220 MW.

Angka-angka itu membentuk tiga lapisan berbeda:

1.100 MW potensi sumber daya.

330 MW kapasitas terpasang.

Sekitar 220 MW produksi saat ini.

Dengan demikian, produksi aktual Sarulla baru setara sekitar 20% dari potensi sumber daya yang disebutkan pemerintah.

Perbandingan tersebut tidak berarti seluruh potensi 1.100 MW dapat langsung dibangun. Pengembangan panas bumi membutuhkan pembuktian cadangan, pengeboran, kajian teknis, keekonomian proyek, perizinan, kesiapan jaringan, dan pengelolaan dampak lingkungan.

Namun, jarak antara potensi, kapasitas terpasang, dan produksi aktual menunjukkan panjangnya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Sebelum bergerak menuju pengembangan yang lebih besar, kapasitas yang sudah tersedia perlu dipulihkan terlebih dahulu.

Cermin Tantangan Panas Bumi Indonesia

Secara nasional, Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi sekitar 23.742 MW.

Kapasitas terpasang pada akhir 2025 berada di kisaran 2.744 MW. Artinya, baru sekitar 11,6% potensi panas bumi nasional yang telah menjadi kapasitas pembangkit.

Indonesia memang telah menjadi produsen listrik panas bumi terbesar kedua di dunia. Namun, posisi tersebut belum menghapus kesenjangan antara besarnya sumber daya dan listrik yang berhasil diproduksi.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL PLN 2025–2034 menempatkan energi terbarukan sebagai bagian utama penambahan pembangkit. Pemerintah juga membidik tambahan kapasitas panas bumi sekitar 5,2 GW dalam sepuluh tahun.

Ambisi itu membuat pemulihan Sarulla semakin relevan.

Baca juga: Geothermal untuk Data Center, Strategi Baru atau Pergeseran Prioritas Energi?

Menambah ribuan megawatt baru akan sulit memberikan hasil maksimal apabila pembangkit yang telah beroperasi tidak dapat mempertahankan produktivitasnya.

Sarulla memperlihatkan bahwa transisi energi tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang diresmikan atau besarnya kapasitas yang tercantum dalam perencanaan.

Ukuran yang tidak kalah penting adalah berapa megawatt yang benar-benar tersedia, berapa lama kemampuan itu dapat dipertahankan, dan berapa besar investasi yang dibutuhkan agar reservoir terus bekerja secara berkelanjutan.

Bukan Sekadar Menghidupkan Kembali 110 MW

Pemulihan PLTP Sarulla akan menjadi ujian penting bagi pengelolaan aset panas bumi Indonesia.

Apabila tambahan investasi mampu mengembalikan produksi menuju 330 MW, Sarulla akan mendapatkan kembali sekitar sepertiga kemampuannya yang kini belum termanfaatkan.

Tetapi keberhasilan tidak cukup diukur ketika angka 330 MW kembali tercapai.

Pemerintah dan pengelola juga perlu memastikan penyebab penurunan produksi dapat ditangani dalam jangka panjang. Pengembangan berikutnya menuju potensi yang lebih besar harus berdiri di atas data reservoir yang kuat, pola produksi dan reinjeksi yang terjaga, serta pembagian risiko investasi yang jelas.

Baca juga: Membangunkan Raksasa Tidur, Terobosan Baru Panas Bumi Indonesia

Sebab, angka 1.100 MW hanya menunjukkan apa yang mungkin tersedia di bawah tanah.

Angka 330 MW menunjukkan infrastruktur yang telah dibangun.

Sementara 220 MW menunjukkan listrik yang saat ini benar-benar dapat dihasilkan.

Di antara ketiga angka itulah masa depan Sarulla, dan sebagian ambisi panas bumi Indonesia, sedang ditentukan. ***

  • Foto: Kementerian ESDM – Fasilitas PLTP Sarulla di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Kapasitas produksinya saat ini berada di kisaran 220 MW dari kapasitas terpasang 330 MW.
Bagikan